Wow.. sudah berdebu.. blog ini maksudkuu..
Aaah, benar- benar yaa.. tulisan ini.. posting- posting-an ini, ini yang nanti akan kutinggalkan meski aku sudah tiada :) Lagipula sampai umurku yang telah mencapai ke sekian ini, kebermanfaatan apa yang telah aku berikan? Jejak apa yang kutorehkan? Seperti mereka yang namanya kerap tertera di lembaran- lembaran sejarah, pemikiran mereka yang membangun peradaban. Aku pun ingin. Ingin untuk dapat melakukan kebermanfaatan yang berkelanjutan, hingga selesai kehidupan di dunia ini.
Aku sampai pada saat di mana aku tidak bertanya lagi "Untuk apa aku hidup?" Betapa sadarnya aku, hal itu hanyalah sebuah proses hingga akhirnya saat ini, di mana jawaban itu telah kutemukan. Aku hidup untukMu, aku mungkin lupa, tapi kebahagiaan itu pasti pernah ada, kebahagiaan yang berhasil kuberikan kepada orang lain, dengan hanya AKU HIDUP. AKU ADA. AKU DI SINI.
Kau tahu? Hidupmu ini bukan hanya milikmu. Ya, benar kau lah nahkoda nya, kau sendiri yang dapat memutuskan ke mana kau pergi, tetapi selalu ada orang lain yang terlibat dalam setiap keputusanmu. Ada tawa dan air mata dari orang yang tulus menyayangimu. 'Tidak ada orang yang menyayangimu?' kau kata? Don't be so blind! Ini lah yang kukatakan buta yang sesungguhnya! Selalu ada cinta untukmu. Kehidupanmu adalah bukti nyata. Kau hidup karena cintanya. Untuk apa dia mengantarkan kau hidup jika bukan karena dia mencintaimu? Setidaknya kau punya dia. Wanita yang mengentarkanmu pada kehidupan di dunia ini. Setidaknya kau harus sadar kau PERNAH dicintai. Dan untuk merasakan lebih banyak cinta, hilangkan itu. Rantai- rantai yang mengunci hatimu.
Hidupmu ini bukan hanya milikmu. Jika hidup ini hanya milikmu, mengapa ada orang yang menangis meratapi kepergianmu? Hidupmu ini juga adalah milik orang- orang yang bersamamu ketika kau hidup. Mereka yang mengenalmu. Mereka yang kau kenal. Karena itu aku sampai pada jawaban, bahwa betapa egoisnya aku mempertanyakan untuk apa aku hidup, sedangkan hidupku ini bukan hanya milikku saja.
Maka seterusnya aku hidup, hidupku ini untukMu :)
Selengkapnya...
Sunday, December 15, 2013
Kembali Berkunjung, How've you been?
Sunday, February 3, 2013
Dari Si Buta, Tuli dan Bisu
Aku bertanya keberadaan Tuhanku
Kata mereka Dia berada paling dekat denganku
Oh, apa aku begitu buta untuk sesuatu yang sangat dekat?
Aku sampai pada satu kesimpulan; inilah buta yang sesungguhnya
Mereka bertanya padaku, katanya ada yang butuh pertolongan
Aku hanya menatap heran, kata mereka suara jeritan, rintihan
Api menyebar dari rumah belakang, seseorang berteriak kebakaran
Detik sebelumnya, Aku tidak mendengar suara sekeras itu
Tapi kata mereka, suara itu sudah keras sedari tadi
Aku sampai pada satu kesimpulan: Ah, inilah tuli sesungguhnya
Beribu orang berteriak, beribu orang berseru, beberapa yang pemalu hanya berbisik
Mereka yang berjiwa pujangga melantunkan beribu diksi,
Beberapa yang punya figur berorasi
Sedang aku masih dalam gumaman yang sama; tak jelas
Oh, apakah ini bisu yang sesungguhnya?
Aku ingin menangis
Setelah sebelumnya aku menyadari
betapa buta dan tuli aku sebenarnya
Suara lembut mengalun dalam gendang telingaku
Ia mengajakku untuk mendengar semua itu
Dengarlah..
Teriakan cacian, seruan kebencian, bisikan kedengkian,
lantunan makian, orasi kecemburuan.
Aku mendongakkan kepala, mataku tidak lagi berkaca- kaca
Sadar untuk sesuatu yang tidak perlu jadi kutangisi
Sekarang saatnya bergegas membenah diri
16052011
07:37
© AO
Selengkapnya...
Friday, November 9, 2012
Tepi Penantian
Dia menghela napas panjang. Menatap cahaya lampu malam dari atas jembatan kota kelahiran kami. Untuk yang kesekian kalinya malam ini. Kami diam dalam sunyi. Aku menunggu. Tidak peduli berapa lama pun aku akan menunggu. Tekadku sudah bulat sejak petang tadi, setelah semua keberanian telah aku kumpulkan untuk bertemu dengannya. Kini, saling bertatapan di bawah sinar rembulan yang semakin memudar, tekad itu tak ikut larut. Aku benar- benar terdiam dan menunggu. Menunggu kata- kata itu keluar sendiri darinya. Menunggu jawaban apa pun darinya. Tidak peduli berapa lama pun waktu yang Ia butuhkan untuk mengatakannya. Tidak peduli berapa banyak lampu di hadapan kami telah padam. Aku akan menunggu.
Lalu kini, di dalam diamnya aku menunggu, diam- diam aku menarik napas tertahan. Detik ini, menit ataukah mungkin hitungan jam, aku berada di antara dua pilihan. Usai sudah pengaguman ini ataukah berujung pada pengaguman tiada akhir.
Separuh hatiku ingin pergi dan segera berlari tanpa menunggu jawabmu. Separuh yang lain menang, dikuatkan oleh tekad. Aku memilih untuk menetap di sampingmu, bersama menatap ke arah pantulan rembulan pada riak di bawah jembatan.
Lama aku menunggu saat ini. Sebab selama ini aku lebih banyak menahan diri. Berusaha mengimbangi langkahmu, lalu perlahan maju di depan. Hingga akhirnya nanti, kau bisa mengandalkanku untuk menuntunmu. Sepenuhnya. Jadi, nanti kau tak akan pernah mau berlari tanpa menggenggam lenganku. Takjub sebenarnya. Tidak pernah terpikir sebelumnya, aku dapat berpikiran sangat terencana seperti ini. Tidak heran memang, kalau ternyata ini semua kau lah sumbernya.
Tapi, kau tahu? aku tak pernah mau meletakkan pengaguman ini di atas diriku. Mengendalikanku sepenuhnya seperti bangku kosong di hadapan setir kendali. Oleh karena itu, hari ini aku tidak takut hancur atas kemungkinan terburuk. Di atas pengaguman ini terdapat penghambaan yang memang sengaja dan seharusnya kuletakkan pada posisi pertama. Di atas lebih namamu. Dan atas penghambaan itu lah pengaguman ini ada.
Aku meneguhkan hati, semakin mantap. Lalu memutuskan merobek kesunyian ini, yang berkali- kali menginterupsi. Aku membuka suara.
"Jawabanmu.. ?" Lamat- lamat aku ucapkan kata itu. Khawatir Ia lupa alasan aku masih berdiri di sini. Menggenggam dua buah cincin yang entah akan melingkar di jari kami berdua atau teronggok bisu di sudut kamar.
Semua tergantung jawabnya.
Sunday, July 15, 2012
Just Let Me Know
Pada akhirnya aku harus bertahan. Lagi.
Mereka bilang kita harus saling percaya. Tapi pada akhirnya "I'm the only one who doesn't know anything"
I'm a little tired of this kind of joke. Am I so unreliable enough to know? Ignore my presence. I'm getting used to this kind of game. Little by little, even though you don't tell me : Somehow I just know it.
Selengkapnya...
Friday, June 22, 2012
White Lie
Wednesday, January 25, 2012
My Own Path
which you can play with
I'm not the part of your scenario
cause I like the backstage much more
I'm just being myself
and I'm pretty good at it
I can show you what they can't
with just being the real me
Just one thing, dear
I'm not sorry for being myself
But, should I put my happiness away?
No, I'm never!
I always like this path, actually
I can just take a look the other path
without get out from here
I'm dancing with a joy
in my own path~~
Selengkapnya...
Sunday, January 15, 2012
Keep Living!
There's someone around you
who always love you,
give everything just for you to be happy,
hope you always never lose your smile,
and truly care about you
You can't just give up, right?
You may just don't know..
Then you have to feel it better
----------------------------------------

When you know
There will be someone out there
who appreciate your life,
glad that you are here,
need you so badly,
and just want you to be with
You can't just give up, right?
You will always struggle in this live,
won't you?
Then.. no reason for you to stop.
You may just don't know.
Then you have to trust it from now on and on.
Keep living.
It's the better choice.
-AO
Tuesday, November 15, 2011
Perspektif Hidup

Hidupku bagaikan katak dalam sumur. Terperangkap dentingnya air yang memilukan. Tapi aku tidak tenggelam di sini. Air di sini kering, untuk sebuah kedipan mata yang kian redup tiap harinya. Suara jeritanku hanya memantul kembali. Tak ada yang tahu. Tak ada yang perhatikan, karena aku berada dalam dan di tempat tergelap. Sepandai apapun aku melompat, aku sudah terperosok terlalu dalam. Hanya bisa mendongak melihat harapan di atas sana, atau melihat betapa gelapnya di sini. Yang mana yang kau pilih?Kemudian aku berjalan di atas proses. Perlahan terjawab berbagai tanya dan penyesalan. Perlahan kutemukan diriku.

as long as you keep on living, you will know what happen in the future. Let's meet our future...
Wednesday, October 12, 2011
How's Life?
How do you do everyone?
I'm here. Yes. Wh.. What?! Oke, ya.. I'm HERE.
Lama banget kan nggak ke sini, melupakan sedikit dunia kecilku. Dunia yang menjauh. Dunia kecil yang terbuang? Ehm, sedikit kasar. How's your life? And How's my life? What's wrong with me? Oke, siapapun. This is for you and I. Us.
Dear anyone,
Dulu mimpi- mimpi itu bertebaran. Luas. Galaksi Bima Sakti bahkan tak pernah sanggup menampungnya. Bintang bintang kalah gemerlapnya. Semua keindahan hanya perumpamaan bagi seseorang yang mempunyai banyak mimpi. Pemimpi. Dia suka berimajinasi. Bahagia akan imajinasi dan mimpi mimpinya. Setiap orang memiliki dunianya sendiri. Dan dunia si pemimpi adalah yang terbaik. Terkadang lupa akan realita dan hanyut dalam nuansa. Menjadi pemimpi tidak mudah, dan mempertahankan mimpi itu lebih tidak mudah lagi. Semakin dewasa seorang pemimpi, Ia akan lebih banyak berada dalam kenyataan. Dan mimpi- mimpi itu pun berkurang. Hilang, terlupakan dan terbuang.
Satu hal: Hey, pemimpi. Jangan lupakan impian- impianmu. Sekali pun mereka berusaha menariknya.
Selengkapnya...
Tuesday, April 19, 2011
When I Must Leave
I closed my eyes. Dream. Deep deep and deep. I lost myself.
So, what? I'm alone here. Such a nice pitch black.
This silent is wonderful. Always.
My eyes doesn't see anything. But I can feel this sadness.
Slowly, i make a smile. What else I can do?
When I can't throw this sadness into sparkling tears.
Even I didn't have time to say good bye
I hope that you always smile for me
and everything will be okay without me around
I know that you always strong,
for me who always as weak as the weakest thing
So I think its okay for leaving now
For that reason, i can leave with a single smile
Even deep, I feel this sadness doesn't allow any kind of smile
Everything will be okay
I whisper again and again
to myself
until
I leave..
-AO-
Selengkapnya...
Monday, March 21, 2011
What Color are You?
Ekh =,=
Pertanyaan macam apa itu! bleh =3=
Ada kan? Pertanyaan yang kamu bingung jawabannya apa? Nah ini bagiku. Ini untukku.
" Warna apa yang kamu suka?"
Kalo kamu bertanya padaku, aku sebenarnya juga bertanya itu pada diri aku sendiri. Mereka sering menceritakan warna yang mereka suka, dan bilang " ini warna aku banget!"
Aku juga pengen bilang kayak gitu, " Aku suka warna ini! Ini warna aku banget!"
Dan aku mencari jawaban akan itu..

Akhir akhir ini ibu aku suka beli apa apa warna merah untukku. Sebenernya aku nggak terlalu ribet soal warna, jadi ibu aku beli apa saja yang baginya cocok untukku. Tidak memperhatikan warnanya. Dan karena itu, pernah aku memutuskan merah adalah warnaku. Tapi aku berhenti berpikir seperti itu.
Merah bukan karakterku. Aku tidak seberani merah.
Pernah juga aku berpikir biru adalah warnaku. Tapi tidak, biru bukan warnaku. Aku tidak selembut biru. Tidak seperti biru yang selalu memberikan ketenangan. Mungkin putih warnaku? Selintas terpikir. Ah, tapi tidak. Aku tidak cocok dengan putih. Aku tidak sebersih putih :)
Lalu apa warnaku? Hitam? warna yang begitu gelap. Dark color. Warna yang dulu aku pernah berpikir bahwa warna itu warna yang keren. Cool.
Hitam yang lebih banyak diam.
Menyimpan semua dalam dalam.
Setelah banyak berpikir aku menemukannya. Warna yang aku sukai. Warna yang mencerminkan aku.
Aku suka putih seperti warna awan yang putih
Aku suka merah, merah darah yang mengalir di tubuhku
Aku suka hijau, hijau dedaunan
Aku suka oranye, warna langit di senja hari
Aku suka kuning, seperti warna matahari yang kugambar dulu
Aku suka hitam, karena langit malam yang hitam ada bulan dan bintang
Dan..
Aku suka banyak warna!
Aku suka semua warna!
Seperti pelangi, indah karena banyak warna
Dan begitu pula hidupku. Akan indah karena banyak warna! :)
Selengkapnya...
Tuesday, March 15, 2011
Parting :')
Look at the rainbow if it make you strongSelengkapnya...
Look at the sunshine if it can make you wipe away that tears
Throw our sadness, good bye is not the end
Good bye is not the end
So I say it loudly " See you my friend"
Sunday, February 13, 2011
Story About Childhood Memory

Aku berjalan, menelusuri jejak jejak masa laluku. Dan sampailah aku pada tempat ini, tempat yang selalu menjadi favorit kita. Tempat yang mengingatkan aku tentang kamu, tentang kita. Aku tersenyum getir. Terlalu banyak yang harus diingat…
Dulu, di masa kecilku, kamu begitu bersinar. Matahari favoritku..
Bermain disini adalah kegembiraan sendiri bagi kita, dunia yang hanya ada aku dan kamu. Aku menduduki satu satunya tempat favoritmu. Benar. Disini indah, aku bisa melihat matahari dan kota kecil kita. Aku tersenyum kecil. Bahkan dulu aku tidak pernah mau duduk di sini, di sebelahmu. Kau selalu bilang ‘Ayolah, Pemandangannya begitu indah. Kau bisa melihat matahari dan kota kecil kita. Kau menyukai segalanya tentang matahari bukan?’ Dan setiap kali kau mengatakan itu aku hanya tertawa kecil dan menggeleng. Ya, tidak perlu. Aku memang menyukai matahari, tetapi sejak matahari favoritku adalah kamu, melihatmu berdiri di sini dan tertawa merupakan kebahagiaan tersendiri bagiku.
Kita sering bermain air di sini. Melihat pantulan langit di dalamnya. Kita tidak dapat menyentuh langit di atas sana. Tapi di sini, dalam pantulan langit di air ini, berkali kali pun kita dapat menyentuhnya. Begitu kau selalu menghibur aku. Tetapi suatu kali ketika aku begitu putus asa tentang segala hal di dunia ini, dan kau hibur aku seperti biasanya, aku berkata itu fana, aku ingin menyentuh langit di atas sana. Mengingat keegoisanku itu, aku tersenyum pahit, memejamkan mataku, hembusan angin terasa menjadi lebih dingin. Saat itu, aku begitu melukaimu. Aku ingat bagaimana aku menghilangkan senyum di wajahmu.
Ya, itu ketika aku pindah dari kota kecil kita dan segala keindahannya. Ketika aku dengan menangis tersedu sedu berkata padamu, kita tidak akan bertemu lagi. Kita akan berpisah selamanya. Saat itu aku begitu egois, terbawa perasaanku sendiri, berkata bahwa jika kita berpisah pasti aku akan dilupakan. Pasti dia tidak akan mengingat aku lagi. Dan aku yang tidak mau terluka jika itu terjadi mengatakan bahwa aku akan melupakan segalanya tentang dia dan kota kecil ini. Aku.. Aku benar benar mengatakan itu padanya. Aku menghela napasku berat, buliran airmata menetes dari kelopak mataku. Saat itu.. Saat itu.. Perpisahan sangat berat bagiku. Aku yang tidak mengerti arti perpisahan ini, pertama kalinya mengalami perpisahan yang menyakitkan. Menyalahi arti perpisahan yang sebenarnya.
Aku rindu tempat ini…
Aku rindu Matahari Favoritku..
-AO-
Selengkapnya...
Friday, February 11, 2011
A Prologue, My Class

Aku suka semuanya, aku menyukai riuh canda tawa mereka, gurauan mereka, aku menyukai meja kelas yang hanya untuk satu orang -tidak harus berbagi, sehingga aku malu untuk menulis diari karena teman sebangkuku akan melihatnya-, aku menyukai bagaimana guru kami berteriak- teriak, riuh karena canda tawa gurauan mereka. Aku menyukai bagaimana anehnya tingkah laku mereka, kegilaan mereka.
Aku suka semuanya, aku suka lubang di langit kelas kami. Aku suka mengintip melalui celah- celahnya saat mendengar ocehan guru kami, mengembangkan imajinasi seolah- olah aku menyusut dan terserap oleh lubang itu, menuju Wonderland. Aku sering berimajinasi bahwa lubang di langit- langit kelas kami itu jalan lain menuju Wonderland, selain lubang kunci pada pintu yang ditemukan Alice.
Aku suka semuanya. Aku suka ventilasi jendela kelas kami. Aku mulai menyukainya saat melihat bagaimana kristal kristal cahaya muncul melalui celah celah ventilasi jendela kelas kami yang berkayu. Kristal cahaya yang indah. Kristal cahaya? mungkin kamu tidak dapat membayangkan dan tidak memahaminya, maka akan kujelaskan dengan ringkas, ringkas saja, karena aku tidak ingin melewati banyak waktu, nanti aku akan kehilangan kelinci putih itu di Wonderland seperti Alice. Ya, walau bukan kelinci putih yang aku cari.
Kristal cahaya. Daun -daun bergoyang tertiup angin, meloloskan cahaya matahari yang tadi ditutupi, menembus ventilasi jendela kelas kami, tidak seperti kristal memang, itu sinar. Tapi aku lebih suka menamainya kristal cahaya. Hal alami, tetapi imajinasiku memberitahuku bahwa itu sinar dari liarnya hutan, memanggilku pada hijaunya dedaunan, mengajakku menelusurinya.
Aku menyukai bentuk dedaunan di balik jendela yang terletak di sebelah kanan tempatku berada. Daun- daunnya menari indah tiap angin menyapanya. Seolah- olah angin akan membawanya pergi, ke tempat pohon pohon dengan daun berklorofil merah di negara empat musim. Lalu angin akan menjatuhkannya diantara daun daun merah yang berguguran, menjadikannya spesial, menciptakan suatu keajaiban bagi negara itu. Memberi makna berarti bagi daun itu sendiri, bagi daun hijau di pulau tropis, daun biasa diantara kumpulan daun hijau lainnya. Daun yang semestinya ia gugur, menjadi sampah yang diinjak injak di negeri ini. Hanya oleh sebuah peristiwa sederhana, membawanya pergi, menjadikannya istimewa. Hanya karena peristiwa alami dan sederhana..
Seperti daun itu, saat ini aku hanyalah orang biasa tapi aku tidak akan berhenti berusaha dan berharap. Biarlah saat ini aku hanya benih dari sesuatu yang luar biasa itu. Suatu saat aku akan tumbuh dan dapat menggapai apa yang aku inginkan :)
-AO-
Selengkapnya...

