Friday, February 11, 2011

A Prologue, My Class


Aku suka semuanya, aku menyukai riuh canda tawa mereka, gurauan mereka, aku menyukai meja kelas yang hanya untuk satu orang -tidak harus berbagi, sehingga aku malu untuk menulis diari karena teman sebangkuku akan melihatnya-, aku menyukai bagaimana guru kami berteriak- teriak, riuh karena canda tawa gurauan mereka. Aku menyukai bagaimana anehnya tingkah laku mereka, kegilaan mereka.

Aku suka semuanya, aku suka lubang di langit kelas kami. Aku suka mengintip melalui celah- celahnya saat mendengar ocehan guru kami, mengembangkan imajinasi seolah- olah aku menyusut dan terserap oleh lubang itu, menuju Wonderland. Aku sering berimajinasi bahwa lubang di langit- langit kelas kami itu jalan lain menuju Wonderland, selain lubang kunci pada pintu yang ditemukan Alice.

Aku suka semuanya. Aku suka ventilasi jendela kelas kami. Aku mulai menyukainya saat melihat bagaimana kristal kristal cahaya muncul melalui celah celah ventilasi jendela kelas kami yang berkayu. Kristal cahaya yang indah. Kristal cahaya? mungkin kamu tidak dapat membayangkan dan tidak memahaminya, maka akan kujelaskan dengan ringkas, ringkas saja, karena aku tidak ingin melewati banyak waktu, nanti aku akan kehilangan kelinci putih itu di Wonderland seperti Alice. Ya, walau bukan kelinci putih yang aku cari.

Kristal cahaya. Daun -daun bergoyang tertiup angin, meloloskan cahaya matahari yang tadi ditutupi, menembus ventilasi jendela kelas kami, tidak seperti kristal memang, itu sinar. Tapi aku lebih suka menamainya kristal cahaya. Hal alami, tetapi imajinasiku memberitahuku bahwa itu sinar dari liarnya hutan, memanggilku pada hijaunya dedaunan, mengajakku menelusurinya.

Aku menyukai bentuk dedaunan di balik jendela yang terletak di sebelah kanan tempatku berada. Daun- daunnya menari indah tiap angin menyapanya. Seolah- olah angin akan membawanya pergi, ke tempat pohon pohon dengan daun berklorofil merah di negara empat musim. Lalu angin akan menjatuhkannya diantara daun daun merah yang berguguran, menjadikannya spesial, menciptakan suatu keajaiban bagi negara itu. Memberi makna berarti bagi daun itu sendiri, bagi daun hijau di pulau tropis, daun biasa diantara kumpulan daun hijau lainnya. Daun yang semestinya ia gugur, menjadi sampah yang diinjak injak di negeri ini. Hanya oleh sebuah peristiwa sederhana, membawanya pergi, menjadikannya istimewa. Hanya karena peristiwa alami dan sederhana..



Seperti daun itu, saat ini aku hanyalah orang biasa tapi aku tidak akan berhenti berusaha dan berharap. Biarlah saat ini aku hanya benih dari sesuatu yang luar biasa itu. Suatu saat aku akan tumbuh dan dapat menggapai apa yang aku inginkan :)

-AO-

No comments:

Post a Comment

Don't forget to comment^^
Feel free to submit your comment, just type it here ^^